Tampilkan postingan dengan label komentar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komentar. Tampilkan semua postingan

6 Sep 2010

i quit from twitterland

Yeah I quit from twitterland, no offense. It’s just me personally. I didn’t quit twitter because of I hate somebody or everybody. Seriously, it’s just me who doesn’t feel comfortable anymore with this social media.



Just like another social media, Twitter gives you ability to connect with other people. It’s more specific than facebook, its function is to twittering what's on your mind. Of course, by using twitter you can also share an article or photo, or mention your friends name to gossip or chitchat or whatever. On the top of that, you can follow people that you adore the most like an artist or celebrities just to know the latest update of theirs and what they discuss' with their friends. even you can make a response and they can read your response even though you didn't followed by them. It was really adorable!! it's like, twitter gives you the abilities to read other peoples mind!! crazy!!.

because,

..Sometimes, it's better for us to not knowing something that we do not need know..

It was fun for the first time, but as time goes by, it becomes annoying. I can’t stop tweeting every activities that I’ve done, every mood that I feel, every songs that plays in my playlist, everything. I spent my money to reload the pulse in my cell phone, just to tweet. Or my office hour becomes less effective because every time I feel happy, or, sad, or, bored, or whatever, I tweet. Before I sleep I tweet, before I pray I tweet. I tweet almost every time!! *forgodsake!!* .

Moreover, when someone you follow, always tweet something than you don’t like, like spamming, or selling something, or whatever. You can’t hide them. Your choice is only stop following them, and it’s no problem when they aren’t your friends or someone that you know each other. But what if the situation is the opposite? That would be impolite.

So for now, I quit from twitterland, maybe not forever. If someday I feel that I need to go back to twitterland, I’ll be back. :D

picture is taken from here

3 Okt 2009

Ketika Batik Berjaya


KabarIndonesia - Tanggal 2 Oktober 2009 kemarin, untuk pertama kalinya bangsa Indonesia memproklamirkan batik sebagai miliknya yang sah dan diakui PBB sebagai World Heritage.

Wew!! selamat buat Indonesia, akhirnya batik sudah diakui dunia sebagai warisan dunia dari Indonesia. Saya terus terang merasa bangga karena akhirnya ada juga pengakuan dunia terhadap negara ini.

Kabarnya lagi, setelah diakui oleh dunia, salah seorang petinggi partai di negara ini ada yang mengusulkan tanggal 2 Oktober sebagai hari batik... wew!! (lagi).

Dan setiap pegawai ngeri diwajibakan pake batik tiap jumat... WEEWW!!!!! *lebai :P*

Waktu tanggal 2 Oktober kemarin saya menuju kampus, i saw many people wearing batik in the street, departement store, campus, angkot, everywhere!. Dan saya pun berfikir.., mann.. ini bener2 hari batik sedunia.. hampir semua orang pakai batik dan hari itu terasa seperti hari kondangan sedunia... wkwkwkwkw ;P.

Bukan karena apatis cuma kayaknya nggak adil aja. Batik sepertinya begitu di agung-agungkan setelah negara tetangga yang coba mengklaim. kalo kemaren si tetangga nggak coba mengkalim, gw rasa si batik nggak juga akan terlihat sehebat seperti sekarang ini. Yang selanjutnya adalah bagaimana dengan kain-kain khas Indonesia lainnya? seperti kain Ulos dari Medan (Batak), Songket dari Palembang, kain ikat, dan masih banyak kain khas Indonesia yang lainnya, masak musti nunggu tetangga yang nge-claim dulu baru bisa di akui sama orang Indonesia sendiri?

Saya rasa negara ini terlalu banyak hura-huranya, padahal masi banyak "PR" yang harus diselasaikan dari hanya sekedar mencanangkan 1 hari nasional untuk batik. Masih banyak warisan kebudayaan lain yang nunggu untuk diakui negara ini secara de facto dan de jure, biar nggak di serobot lagi sama negara tetangga.

Akhirnya tanggal 2 oktober kemarin, saya putuskan untuk nggak ikutan pake batik :P

*image source:
http://www.smamuhiyogya.org/projects/D2D/group14/Narrative.htm


2 Sep 2009

Welcome to the Flat World.



Setelah pembicaraan menarik dengan seorang kawan, tentang masa transisi yang menjemukan. Membuat saya berfikir betapa manusia jaman sekarang mudah sekali depresi, yah, termasuk saya. Saya termasuk orang yang penuh dengan ke kahawatiran, bukan perfeksionis, tapi selalu merasa ada ganjalan setiap kali belum menemukan suatu pijakan yang pas, selepas meninggalkan satu fasa kehidupan yang sebelumnya.

Mungkin itu memang sudah menjadi tabiat manusia jaman sekarang. Di jaman seperti ini, jaman maju kalo kata orang tua bilang, kalau kita tidak bergerak, maka kita akan mati. Setidaknya, kita akan selalu di liputi rasa was-was “apakah esok hari saya masih bisa bertahan?”. Kalau kata Friedman, saat ini tidak ada satu jaminan bahwa satu spesifikasi keahlian dapat kita andalkan untuk bertahan di dunia kelas menengah baru.

Kelas menengah maksudnya?, begini, Friedman dalam bukunya The World is Flat menyatakan bahwa ada 3 golongan pekerjaan utama di dunia ini. yang pertama, pekerjaan golongan bawah yaitu kategori pekerjaan yang tidak dapat di digitasi maupun di outsourcing, contohnya adalah pekerjaan jasa seperti pengantar pizza, surat, tukang sapu, pembuat kopi dan lain-lainnya, yang kedua adalah perkerjaan golongan “tak tejamah”, seperti jenis pekerjaan yang dilakukan oleh Madonna, Paris Hilton, ataupun Tiger Woods, dan yang ketiga adalah jenis pekerjaan golongan menengah, biasanya pekerja golongan ini adalah pekerja yang memiliki intelektual tinggi, lulusan universitas maupun institusi ternama, kasarnya, perkerjaan kantoran. Saat ini pekerjaan golongan menengah ini adalah jenis pekerjaan yang mampu meraup jumlah pekerja paling banyak dalam 50 tahun terakhir ini.

Namun seiring dengan semakin majunya teknologi, dan persaingan global yang makin ketat, persaingan kerja di dunia kelas menengah ini semakin akan menggila. Jika kita tidak tahan dengan perubahan yang sangat cepat, maka kita akan sulit bertahan di dunia kelas menengah. Seperti yang Friedman bilang sebelumnya, tidak ada satu spesifikasi keahlian tertentu yang dapat menjamin kita dapat bertahan di dunia kelas menengah baru. Karena semua hal akan berubah begitu cepat, akan semakin banyak orang pintar di dunia ini. dan perusahaan tentu saja, akan mencari orang pintar dengan biaya termurah sesuaii dengan prinsip ekonomi.

Ingat waktu jaman revolusi industri, ketika otot manusia di gantikan dengan mesin-mesin, dan saat ini, otak manusia mulai di gantikan dengan komputer-komputer super canggih., (wew!!) ini seperti revolusi teknologi buat saya, hal ini sebenarnya sudah saya rasakan semnjak saya masuk SMU, ketika waktu itu perusahaan tempat ayah saya bekerja memangkas karyawannya secara besar-besaran. Yah.. ayah saya di PHK dan begitu sulitnya mencari pekerjaan baru, karena semua jenis pekerjaan yang ia tekuni, menuntut lebih banyak kriteria dari sebelumnya. ayah saya tidak tahan dengan perubahan itu, maka ia termasuk golongan yang tersisih di dunia menengah baru.

Saya sebenernya kaget juga waktu baca buku ini, kaget karena baru menyadari bahwa memang seperti itulah kenyataan yang terjadi di dunia saat ini dan sempat juga berfikir, kemana saja saya selama ini? terlalu sibuk mengurusi persamaan kekekalan kontinyuitas dan momentum kah? atau saya hanya dilenakan dengan sejarah “kejayaan” masa lampau? Atau kisah mimpi dalam film drama yang sangat saya gilai? Yang mana? (kayaknya semua dehh...(-_-!)) hehehe..

Satu hal lagi yang saya sukai dari buku ini, Friedman dalam bukunya, dia tidak hanya memaparkan fakta dari pada apa yang terjadi di dunia saat ini, tapi juga ada solusi yang juga disajikan. Untuk bertahan di dunia kelas mengah baru ini ada satu solusi menarik yang menurut saya harus dimiliki oleh kita yaitu, kemampuan kita untuk terus belajar. Kemampuan kita untuk terus merangkak. Menyesuaikan diri dengan perubahan. Itu mungkin jalan satu-satunya kemampuan untuk bertahan di dunia kelas menengah baru.

Belajar tidak harus melalui bangku kuliah, tapi bisa dari mana saja. di internet apa lagi.., yang penting kita mau berusaha dan membuka pikiran dan bertanya. Karena, tidak ada seorang pun yang akan bekerja lebih keras dari pada seoarang anak yang ingin tahu.

source gambar: http://i.treehugger.com/images/2007/10/24/green-job-crossroads.jpg

31 Jan 2009

Suatu ketika di Stasiun itu

Saya baru tau, kejadian dramatis itu sangat mungkin sekali terjadi di sarana transportasi umum. kali ini kejadiannya di stasiun kereta api.

hari itu , saya secara tak sengaja diajak untuk mengantar sahabat saya ke stasiun Bandung, untuk pergi ke Semarang menggunakan kereta api. kami mengantarnya sampai kedepan gerbong kereta yang dituju, teman saya bilang keretanya berangkat pukul 20.30 WIB. kami tiba 15 menit sebelum kereta berangkat. setelah mengantarnya masuk ke dalam kereta. saya dan kawan saya yang lain tidak langsung pulang, tetapi masih berdiri di samping kereta tersebut. kami baru akan pulang setelah kereta tersebut melaju dan pergi.

waktu menunjukkan pukul 20.25 WIB. petugas pejaga kereta pun membunyikan peluit pertanda kereta akan segera berangkat. petugas yang lain, memberikan peringatan melalui speaker mengatakan, bahwa kereta jurusan semarang malam itu akan segera berangkat.

tiba-tiba dari kejauhan seorang gadis berlari tergopoh-gopoh dengan menarik koper di belakangnya, petugas yang melihat segera menghampiri menawarkan bantuan untuk mebawakan kopernya. gadis tersebut panik bukan main, dia menanyakan apakah itu kereta jurusan semarang, petugas kereta api menjawab , ia, dan memperingatkan bahwa kereta akan segera berangkat, namun si gadis menolak dibawakan kopernya. dia bilang temanya belum datang dia memohon agar kereta jangan berangkat dulu. lalu ia menitipkan kopernya pada petugas kereta api yang ada disana, dia bilang mau mencari temannya dulu kemudian berlari lagi ke depan stasiun. suasana pun kemudian menjadi sedikit ramai, para petugas kereta api saling mebicarakan gadis tersebut, petugas yang membunyikan peluit mulai gelisah, satpam stasiun mulai sedikit marah-marah.

15 menit kemudian gadis tersebut kemudian terlihat berlali lagi kearah kereta tsb, dan seperti mengulang sebuah adegan film, kami meliatnya berlari sekuat tenaga kearah kereta api namun kali ini ia bersama dengan temanya masih dengan membawa koper dorong seperti seperti sebelumnya. satpam stasiun yang kesal kemudian berteriak " CEPAT!!! KERETANYA SUDAH HARUS BERANGKAT" pada kedua gadis tersebut. para petugas kereta api membantu membawa kopernya keatas kereta. dan akhirnya kereta benar-benar berangkat pada pukul 20.45 WIB.

Saya dan teman saya yang mengantar, terpana untuk beberapa saat, kemudaian kami berdua tertawa.. dan berguman " ada ada aja ya.. hahahaha"

Saya nggak tau deh harus bangga atau kecewa sama negara ini,yang jelas kami nggak habis pikir. negara ini memang super anehh, setau saya, jadwal kereta itu sangat bergantung dengan ketepatan waktu, karena jalur kereta api itu tidak dibuat untuk satu kereta saja, melainkan untuk banyak kereta secara bergantian pada jam-jam tertentu, artinya ketepatan waktu itu sangat penting. kalau dinegara-negara berkembang (seperti japang misalnya) kereta merupakan salah satu alat trasnportasi umum yang utama , efek domino dari keterlambatan jadwal kereta, akan sangat panjang. selain urusan orang lain yang juga bisa tertunda, efek yang paling parah adalah bisa menyebabkan kecelakaan dalam perjalanan. jika dihitung kerugian masing- masing orang akibat efek domino dari keterlambatan kereta api, maka jumlahnya akan mencapai akngka yang sangat besar.
di sisi lain, saya bangga akan tingginya nilai toleransi yang ada di indonesia. kalau saya berada di posisi gadis tersebut saya pasti akan bersyukur sekali. masih bisa naik kereta, artinya tiket tidak hangus. dan urusan saya masih dapat berjalan.

Jadi kesimpulannya apa? Hem... saya nggak mau menarik kesimpulan ah.., yah introspeksi diri sendiri aja. kalau saya jadi penumpang, saya harus menghormati kepetingan penumpang yang lain, yang juga punya kepentingannya masing-masing, jadi saya tidak boleh datang terlambat. Lalu kalau saya jadi masinisnya, ya saya harus lebih tegas saja. jadwal kereta berangkat jam 20.30 maka.. jam segitu juga saya harus menjalankan kereta tersebut.

:D